Kamis, 21 Agustus 2014

Pendidikan Desain Harus Berubah...???

Tulisan dibuat sebagai tanggapan terhadap sebuah artikel oleh Donald Norman, "Mengapa Pendidikan Desain Harus Berubah?"
 
Mengapa pendidikan desain harus berubah? Sebuah artikel oleh Donald Norman yang mengkritik pendidikan desain yang menyebabkan lahirnya para desainer yang hanya memikirkan sesuatu dengan sebelah sisi. Desainer yang berlatarbelakang enjiniring hanya menerapkan metode penelitiannya pada hal yang bukan berbasis fisis dan biologis, sedangkan desainer yang berlatarbelakang seni dan desain hanya mencermati masalah, lalu mengancang sebuah solusi untuk dijadikan problem solving. Sebagai seorang desainer, saya melihat hal ini sebagai suatu kondisi yang memang harus diperbaiki. Dengan berlatarbelakang sebagai lulusan arsitektur, saya banyak melihat kejadian yang membuat miris keadaan dunia desain sekarang ini. Berlandaskan pada teori Vitruvis yang mengemukakan bahwa karya arsitektur yang layak merupakan karya yang dapat mengandung tiga unsur, antara lain utilitas (fungsi), firmitas (teknologi), dan venusitas (keindahan). Tanpa memiliki salah satu unsur dari ketiga unsur tersebut, sebuah karya arsitektur harusnya dianggap gagal. Banyak arsitek muda yang kemudian ingin memperlihatkan kreativitas mereka dalam mendesain dan hal tersebut diterima khalayak dengan antusias pada awalnya. Mereka tidak mempertimbangkan bagaimana struktur yang tepat atau hanya menginginkan sebuah desain yang menarik tanpa melihat sisi logisnya. Mungkin secara teori bisa diterima, akan tetapi apakah bisa diterima dan berlaku pada masyarakat dalam waktu yang lama? 

Desainer masa kini mungkin dapat dikatakan oleh Donald Norman sebagai desainer yang miskin didikan. Hal ini tidak bisa ditepis sebab dalam perkembangan pendidikan tentunya dibarengi dengan perkembangan teknologi. Sebenarnya masalah dalam desain berkembang semakin pelik ketika teknologi mulai berkembang pula. Banyak sekolah desain yang kemudian menghasilkan lulusan yang sebagian tidak berkecimpung di dunia desain atau bekerja di bank. Penciptaan sebuah sekolah atau jurusan desain sebaiknya harus dibarengi dengan mental mahasiswa yang pada dasarnya berminat dalam bidang tersebut. Kenyataannya hal ini dipengaruhi teknologi dimana keterampilan lama seperti menggambar atau mensketsa digantikan oleh teknologi. Dalam filsafat Rousseau dikenal dengan faham yang disingkat sebagai retour a la nature (kembali ke alam). Menurut Rousseau, kemajuan seni dan ilmu pengetahuan bagi manusia bukan kemajuan melainkan kemerosotan dan keterasingan. Manusia menjadi buruk akibat kebudayaan yang berkembang. Oleh karenanya pendidikan yang semestinya harus diarahkan, sehingga tidak berimbas pada karya desain yang menyangkut khalayak banyak. 

 Industrial design yang berkembang dalam dunia desain ini memang secara tidak langsung memilah bidang yang berada di bawah asuhan desain. Mungkin memang desainer tidak mempelajari matematika atau ilmu sains lainnya, akan tetapi dalam penerapan di lapangan akan mengharuskan kita mengetahui hal tersebut. Metode penelitian dalam bidang desain merupakan hal yang mutlak sepenuhnya diketahui oleh seorang desainer. Hal ini sebenarnya dapat diatasi ketika suatu hal dapat ditanggulangi dengan cara kolaborasi. Pendidikan desain mungkin tidak harus diubah total, akan tetapi mengkombinasi disiplin ilmu merupakan hal yang patut dicoba. Dalam masalah pendidikan desain ini kita mungkin bisa bercermin pada seorang Leonardo daVinci. Dalam beberapa karyanya dapat dilihat bagaimana hasil pengamatan dan penelitiannya yang merupakan suatu perwujudan dari kesatuan hidup karya estetika dan ilmu sains. Selain pada disiplin ilmu yang hanya menitikberatkan pada unsur rasa, juga dengan pendekatan rasional yaitu berasaskan pada sains. 

Untuk mengubah suatu pendidikan desain sebenarnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak hanya dengan menghijrahkan sekolah seni, desain, dan arsitektur untuk masuk menjadi bagian sekolah sains dan enjiniring lalu akan mengubah paradigma berpikir calon desainer. Tuntutan akan ilmu sains dan metode penelitiannya memang diperlukan dalam bidang desain. Akan tetapi apakah para enjinir mampu menerima pemikiran desainer? Banyak kasus yang menjadikan arsitektur berbeda drastis dengan ilmu sipil, sederhananya dalam pembangunan rumah. Desainer lebih mengkaji pola aktivitas manusianya sebagai parameter sehingga tercipta kondisi ruang yang layak, dan ahli sipil lebih mengkaji struktur rumah tanpa memperhatikan kenyamanan pengguna ruang. Jadi sebenarnya bukan hanya paradigma dalam ilmu desain yang perlu perubahan, melainkan dalam bidang teknisi juga. Lebih baik lagi ketika ilmu tersebut dikolaborasikan seperti yang telah saya paparkan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar