Kamis lalu, 10 Oktober 2013, kami rombongan mahasiswa S2 FSRD ITB melakukan perjalanan panjang menuju Bosscha dengan kendaraan yang apa adanya. Awalnya kami berencana naik angkot rame-rame, tapi ternyata yang bawa kendaraan motor lebih banyak. Lalu akhirnya pilihan jatuh pada seorang teman yang membawa kendaraan mobil dimana kapasitas yang menumpang lebih banyak dan tidak seimbang dengan kondisi mobil yang ternyata bagian belakangnya telah dicabut kursinya. Walau bagaimanapun kami tetap menikmati perjalanan itu bahkan sempat diabadikan. ^^ hehehe…
Dalam perjalanan menuju Bosscha
Akhirnya kami tiba juga di Bosscha. Udara sore hari itu lumayan menggigit dan untungnya saya tidak lupa membawa jaket. ^^
SnB cuma bertiga, haha...
Sebelum memasuki lebih dalam lagi, kami dipanggil untuk mengikuti semacam kuliah umum mengenai Bosscha dan alam semesta kita ini.
Berpose sebelum mendapat kuliah umum
Menyusuri jalan menuju Bosscha

Berpose bersama kawan-kawan S2 desain ITB
Menikmati pemandangan sore depan observatorium
Bersama Gaby di Bosscha
Beberapa koleksi visual mengenai astronomi
Tangga yang menuju ke lantai atas
Teropong Zeiss yang besar di tengah ruangan
Kubah mulai terbuka
Untuk melakukan peneropongan terhadap benda langit, bagian kubah observatorium harus dibuka seperti pada gambar dan tidak boleh ada cahaya-cahaya yang dapat mengganggu aktivitas peneropongan.
Terdapat hal yang unik lagi pada ruangan observatorium ini, yaitu panggung Zeiss yang ternyata bisa dinaikkan dan diturunkan. Ketika panggung Zeiss dinaikkan, dapat dilihat di bawahnya terdapat banyak rangka baja yang menopang panggung tersebut, juga merupakan ruangan yang tidak terpakai.
Area bawah panggung Zeiss
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai observatorium Bosscha ini, yuk intip penjelasan berikut.
Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha (Bosscha Sterrenwacht) didirikan oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda dan pembangunannya menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun (1923-1928). Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, merupakan penyandang dana utama berdirinya observatorium Bosscha ini dan sekaligus yang memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Oleh karenanya, nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Observatorium Bosscha ini selain merupakan yang tertua, juga meupakan satu-satunya observatorium terbesar yang ada di Indonesia bahkan Asia Tenggara.Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Akan tetapi observasi terpaksa dihentikan disebabkan berkecamuknya Perang Dunia II. Usai perang, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini sehingga dapat berfungsi normal kembali. Pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI dan selanjutnya menjadi bagian dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Observatorium ini akhirnya difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Observatorium Bosscha berada di daerah Lembang, Jawa Barat, bagian utara Kota Bandung dan memiliki tanah seluas 6 Ha.
Teleskop
(sumber referensi : http://bosscha.itb.ac.id/)Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
Teleskop ini merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, dan teleskop pencari berdiameter 40 cm. Instrumen utama ini telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi, antara lain untuk pengamatan astrometri, khususnya untuk memperoleh orbit bintang ganda visual. Selain itu, teleskop ini juga digunakan untuk pengamatan gerak diri bintang dalam gugus bintang, pengukuran paralak bintang guna penentuan jarak bintang. Pencitraan dengan CCD juga digunakan untuk mengamati komet dan planet-planet, misalnya Mars, Jupiter, dan Saturnus. Dengan menggunakan spektrograf BCS (Bosscha Compact Spectrograph), teleskop ini secara kontinu melakukan pengamatan spektrum bintang-bintang.Teleskop Schmidt Bima Sakti
Teleskop Schmidt Bima Sakti mempunyai sistem optik Schmidt sehingga sering disebut Kamera Schmidt. Teropong ini mempunyai diameter lensa koreksi 51 cm, diameter cermin 71 cm, dan panjang fokus 127 cm. Teleskop ini biasa digunakan untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spektrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk ditentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Diameter lensa 71,12 cm. Diameter lensa koreksi biconcaf-biconfex 50 cm. Titik api/fokus 2,5 meter. Juga dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk memperoleh spektrum bintang. Dispersi prisma ini pada H-gamma 312A tiap malam. Alat bantu extra-telescope adalah Wedge Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang , dan alat perekam film.Teleskop Refraktor Bamberg
Teropong Bamberg juga termasuk jenis refraktor yang ada di Observatorium Bosscha, dengan diameter lensa 37 cm dan panjang fokus 7 m. Teropong ini berada pada sebuah gedung beratap setengah silinder dengan atap geser yang dapat bergerak maju-mundur untuk membuka atau menutup. Karena konstruksi bangunan, jangkauan teleskop ini hanya terbatas untuk pengamatan benda langit dengan jarak zenit 60 derajat, atau untuk benda langit yang lebih tinggi dari 30 derajat dan azimut dalam sektor Timur-Selatan-Barat. Untuk obyek langit yang berada di langit utara atau azimut sektor Timur-Utara-Barat praktis tak dapat dijangkau oleh teleskop ini. Teleskop ini selesai diinstalasi awal tahun 1929 dan digerakkan dengan sistem bandul gravitasi, yang secara otomatis mengatur kecepatan teleskop bergerak ke arah barat mengikuti bintang yang ada di medan teleskop sesuai dengan kecepatan rotasi bumi. Teleskop ini juga telah dilengkapi dengan detektor moderen, menggunakan kamera CCD. Teleskop ini biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari, dan untuk mengamati benda langit lainnya. Dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer untuk mendapatkan skala terang bintang dari intensitas cahaya listrik yang di timbulkan. Diameter lensa 37 cm. Titik api atau fokus 7 meter.Teleskop Cassegrain GOTO
Teleskop Goto berjenis reflektor Cassegrain dengan diameter cermin utama 45 cm. Cermin utama yang berbentuk parabola memiliki panjang fokus 1,8 m dan cermin sekunder yang berbentuk hiperbola memiliki panjang fokus 5,4 m. Teleskop ini merupakan bantuan dari kementrian luar negeri Jepang melalui program ODA (Overseas Development Agency), Ministry of Foreign Affairs, pada tahun 1989. Dengan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut. Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang serta pengamatan spektrum bintang. Dilengakapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometerTeleskop Refraktor Unitron
Teleskop Unitron adalah teropong refraktor dengan lensa obyektif berdiameter 102 mm dan panjang fokus 1500 mm. Teropong ini diinstalasi pada mounting Zeiss yang masih asli dengan sistem penggerak bandul gravitasi, sama seperti pada teropong Bamberg. Dari segi ukuran, teropong ini baik untuk pengamatan matahari maupun bulan, dan banyak digunakan untuk praktikum mahasiswa. Dengan ukuran yang kecil dan ringan, teropong ini mudah dibawa dan telah beberapa kali digunakan dalam ekspedisi pengamatan gerhana matahari total, misalnya tahun 1983 di Cepu, Jawa Tengah, dan tahun 1995 di Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. Teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan pemotretan bintik matahari serta pengamatan benda-benda langit lain. Dengan Diameter lensa 13 cm, dan fokus 87 cmTeleskop Surya
Teleskop ini merupakan teleskop Matahari yang terdiri dari 3 buah telekop Coronado dengan 3 filter yang berbeda, serta sebuah teleskop proyeksi citra Matahari yang sepenuhnya dibuat sendiri. Fasilitas ini merupakan sumbangan dari Kementerian Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan, Negeri Belanda, Leids Kerkhoven-Bosscha Fonds, Departemen Pendidikan Nasional, serta Kementerian Negara Riset dan Teknologi.Teleskop radio 2,3m
Teleskop radio Bosscha 2,3m adalah adalah instrumen radio jenis SRT (Small Radio Telescope) yang didesain oleh Observatorium MIT-Haystack dan dibuat oleh Cassi Corporation. Teleskop ini bekerja pada panjang gelombang 21 cm atau dalam rentang frekuensi 1400-1440 MHz. Dalam rentang frekluensi tersebut terdapat transisi garis hidrogen netral, sehingga teleskop ini sangat sesuai untuk pengamatan hidrogen netral, misalnya dalam galaksi kita, Bima Sakti. Selain itu, teleskop ini dapat digunakan untuk mengamati obyek-obyek jauh seperti ekstragalaksi dan kuasar. Matahari juga merupakan obyek yang menarik untuk ditelaah dalam panjang gelombang radio ini. Obyek eksotik, seperti pulsar, juga akan menjadi taget pengamatan dengan teleskop radio ini.Wah, observatorium Bosscha sangat mengagumkan yah. Akan tetapi, melihat kondisi sekitar Lembang yang telah dipadati oleh permukiman secara tidak langsung memberikan ancaman bagi keberlangsungan aktivitas di Bosscha. Hal ini disebabkan oleh semaraknya lampu-lampu kota dan permukiman yang ada. Bagaimana sebaiknya menanggulangi hal tersebut? Bukankah kita tidak ingin hanya nama saja bahwa observatorium terbesar se-Asia Tenggara, tetapi juga aktivitasnya tidak mati dan menjadi bangunan yang bisa berfungsi dengan baik bukan?
Menikmati keindahan semesta memang merupakan kepuasan visual tersendiri bagi kita. Semesta kita telah memperlihatkan banyak sensasi di angkasa sana. Sungguh kuasa Allah SWT yang tiada taranya…





Tidak ada komentar:
Posting Komentar